Ada buku yang bikin orang berhenti sejenak, menatap piringnya, lalu berpikir ulang tentang apa yang masuk ke tubuhnya. Buat saya, itu The Vegetarian karya Han Kang. Membaca kisah Yeong Hye yang tiba-tiba menolak makan daging, saya merasa seperti bercermin. Bedanya, saya bukan tokoh fiksi yang dihantui mimpi darah, melainkan seorang perempuan milenial yang memutuskan menjadi pescatarian pada circa 2017 hingga 2020.
Selama tiga tahun itu, tubuh saya terasa lebih segar, perut lebih enteng, dan entah kenapa pikiran terasa lebih “jernih”. Tapi konsekuensinya muncul pelan-pelan: hemoglobin sering rendah, padahal saya rutin donor darah. Akhirnya, saya kembali mengonsumsi daging merah. Ironis, ya? Buku yang menginspirasi saya hidup lebih sehat justru membuat saya berhadapan dengan tubuh sendiri yang menuntut kompromi.
Waktu saya pertama kali bilang ke orang-orang terdekat kalau saya jadi pescatarian, rasanya kayak lagi ngasih pengumuman besar. Ada yang bilang, “Apa? Kok nggak makan daging? Nggak ada daging, terus makan apa?” Kadang saya jawab dengan santai, “Ya makan tahu dan tempe lah, ada banyak pilihan kok selain daging!” Kadang, mereka mikir saya akan jadi kayak Yeong Hye, tiba-tiba jadi ekstrem dan menolak dunia di sekitar saya. Padahal, cuma nggak makan daging kok, enggak sampai jadi tragedi kan?
Baca juga:
Wal hasil, selama melakoni pescatarian , saya kemudian sadar: pola makan itu bukan perkara nutrisi belaka, tapi juga soal identitas. Sama seperti orang memilih gaya berpakaian atau selera musik, memilih diet juga bagian dari siapa kita. Serupa Yeong Hye. Pilihan pribadi kita terkadang menjadi persoalan yang jauh lebih besar. Keputusan untuk tidak makan daging bukan hanya menjadi tanda perlawanan terhadap norma yang berlaku, tetapi juga sebuah perjalanan untuk menemukan identitas tubuh yang lebih selaras dengan pilihan pribadi.
Identitas di Piring
Di Indonesia, makanan bukan cuma isi perut. Ia adalah budaya, simbol, bahkan kadang status sosial. Pesta tanpa daging kerap dianggap kurang meriah. Rendang, rawon, semur, coto, sate, gulai—banyak hidangan perayaan berbasis daging. Jadi ketika saya bilang “saya nggak makan daging merah”, tatapan heran sering muncul.
Makan dengan teman-teman itu selalu jadi tantangan. Saya ingat momen saat berlibur ke Bali. Kami makan bersama di sebuah restoran; teman-teman memesan menu daging. Ketika saya memilih hidangan tanpa daging, mereka langsung bertanya: “Kenapa nggak makan daging?” Pramusaji dan pemandu wisata pun buru-buru memastikan bahwa daging yang dihidangkan halal, seolah masalahnya ada di kehalalan, bukan di pilihan saya.
Di situ saya menghadapi dua hal sekaligus: pertama, menyampaikan pola makan saya dengan jujur; kedua, menjelaskannya dengan hati-hati supaya pramusaji dan pemandu wisata tidak tersinggung ketika saya menolak hidangan mereka. Rasanya seperti memperkenalkan identitas baru di tengah suasana liburan. Padahal, ini “cuma” pilihan diet. Tapi di mata orang lain, ia bisa terbaca sebagai pernyataan politik atau bahkan penolakan budaya.
Di The Vegetarian, Han Kang menggambarkan keputusan Yeong Hye untuk menolak daging sebagai bentuk perlawanan. Bukan hanya soal kesehatan, tapi tentang kebebasan tubuhnya. Pilihan makan menjadi simbol kebebasan. Di Indonesia, mungkin tidak sekeras itu, tapi tetap terasa: memilih pola makan adalah salah satu cara kita mendefinisikan diri.
Negara, Gizi, dan Tubuh Kita
Di luar pilihan pribadi, ada dimensi kebijakan. Pemerintah belakangan gencar bicara soal konsumsi protein hewani, tetapi pada saat yang sama juga menekankan diversifikasi pangan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), konsumsi daging sapi/kerbau per kapita per minggu di Indonesia tergolong rendah secara nasional—sebuah gambaran bahwa keterjangkauan, preferensi budaya, dan akses memengaruhi isi piring kita dari hari ke hari. Ada pula Permenkes No. 28/2019 yang menetapkan angka kecukupan gizi (AKG), termasuk rata-rata AKG protein 57 gram per orang per hari (pada tingkat konsumsi). Angka ini penting sebagai panduan, tetapi cara tiap orang memenuhinya bisa berbeda-beda dan tidak harus lewat daging merah saja.
Lucunya, ketika negara menghitung pasokan dan konsumsi, banyak orang di era kekinian justru memilih mengurangi daging, atau tidak makan daging sama sekali. Ada yang vegetarian karena usia, ada yang vegan karena pola hidup, ada juga yang sekadar mengurangi daging karena harga makin mahal.
Seperti yang tergambar dalam The Vegetarian, negara dan masyarakat sering kali menilai sebuah pilihan diet pribadi sebagai masalah yang lebih besar, padahal bisa jadi itu hanyalah keputusan yang sesuai dengan kondisi tubuh atau kepercayaan individu. Pertanyaannya kemudian: apakah negara perlu ikut campur sampai ke piring? Atau cukup memastikan semua orang punya akses gizi—apa pun pilihan dietnya?
Di sinilah teori gizi masuk, baik dalam program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) atau dalam memahami dinamika sosial dan budaya di balik pola makan. Ahli gizi memiliki peran untuk mengarahkan kebijakan yang tidak hanya memperhatikan angka kecukupan gizi (AKG) tetapi juga kebutuhan tubuh yang beragam. Tanpa pendekatan yang berbasis pada ilmu gizi yang menghargai pilihan dan kondisi tubuh individu, kebijakan pangan bisa jadi justru menyulitkan orang-orang dengan preferensi diet tertentu—seperti halnya Yeong Hye pada akhirnya harus menghadapi tekanan sosial karena pilihannya untuk berhenti makan daging.
Kalau dipikir-pikir, tubuh kita itu seperti mesin dengan spesifikasi berbeda-beda. Ada yang “mesin bensin”, ada yang “mesin solar”. Kalau aturan dibuat seragam tanpa melihat perbedaan itu, hasilnya bisa rancu. Misalnya saya sendiri: tiga tahun tanpa daging merah membuat tubuh terasa lebih enteng, tetapi hemoglobin turun. Artinya, teori gizi yang cocok untuk orang lain belum tentu cocok untuk saya. Kebijakan pangan sudah seharusnya memberikan ruang bagi fleksibilitas dan keberagaman dalam pola makan, agar identitas di piring tetap dihormati.
Di titik ini, peran ahli gizi jadi krusial. Mereka bukan sekadar “penghitung kalori”, melainkan penerjemah antara teori gizi dan tubuh nyata. Dalam program besar seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) di satuan pendidikan, kehadiran ahli gizi itu wajib. Bayangkan kalau menu MBG hanya ditentukan secara politis: nasi, lauk daging, sayur seadanya. Tanpa ahli gizi, program mudah berubah jadi sekadar “bagi-bagi makanan” alih-alih menjawab kebutuhan gizi anak.
Urgensi ahli gizi dalam MBG bukan hanya soal menu sehat, tapi juga keadilan gizi. Anak-anak di daerah berbeda punya kebutuhan berbeda. Anak pesisir mungkin sudah cukup protein dari ikan, sementara anak di pegunungan lebih rawan kekurangan zat besi. Kalau semua dipukul rata dengan menu daging, bisa jadi mubazir. Ahli gizi memastikan setiap piring MBG bukan hanya mengenyangkan, tetapi juga tepat sasaran dan memberi nilai manfaat.
Selain itu, ahli gizi bisa membantu menjembatani komunikasi. Banyak orang tua atau vendor MBG yang bingung ketika ada anak menolak daging atau ikan. Mereka spontan berpikir soal halal atau tidak, padahal alasannya beragam, bisa karena kesehatan, selera, alergi atau pilihan pribadi. Ahli gizi dapat menjelaskan bahwa menolak daging bukan berarti menolak gizi. Ada alternatif lain: kacang-kacangan, tempe, tahu, dan sayuran hijau. Dengan begitu, pola makan beragam tetap dihargai tanpa mengorbankan kesehatan.
Baca juga:
Kalau kita tarik ke level kebijakan, negara seharusnya bukan hanya menghitung konsumsi daging, melainkan juga menyediakan ruang bagi fleksibilitas gizi. Program pangan perlu memberi pilihan: bagi yang makan daging, ada menu seimbang; bagi yang vegetarian, ada alternatif protein nabati. Dengan begitu, identitas di piring tetap dihormati, dan kesehatan tetap terjaga.
Pada akhirnya, teori gizi mengingatkan kita bahwa tubuh bukan angka statistik. Ia hidup, berubah, dan punya kebutuhan unik. Pemerintah boleh menetapkan standar, tetapi penerapannya harus lentur. Dan di sinilah ahli gizi menjadi jembatan: memastikan bahwa kebijakan besar seperti MBG tidak berhenti di slogan, melainkan benar-benar sampai ke tubuh anak-anak, pekerja, dan masyarakat luas.
Antara Buku, Tubuh, dan Kebijakan
The Vegetarian menunjukkan bagaimana pilihan makan bisa menjadi bentuk perlawanan, bahkan tragedi. Di Indonesia, pilihan makan juga bisa menjadi identitas sekaligus tantangan kesehatan. Di antara keduanya, ada negara yang sibuk menghitung angka konsumsi, kadang lupa bahwa makanan bukan sekadar angka—ia adalah cerita, tubuh, dan budaya.
Saya jadi ingat pengalaman donor darah. Petugas selalu menanyakan pola hidup atau diet yang saya lakoni. Ketika tahu saya jarang makan daging, mereka mengingatkan: “Hati-hati, hemoglobin bisa turun.” Itu bukan sekadar nasihat medis, tetapi juga refleksi cara kita memandang gizi: sehat sering diseragamkan sebagai makan daging, minum susu, dan konsumsi protein hewani. Padahal, jalan menuju sehat itu banyak.
Apalagi saya punya riwayat tekanan darah rendah. Jadi setiap kali donor darah, tubuh memang lebih rentan. Tiga tahun tanpa daging merah membuat saya harus ekstra hati-hati menjaga hemoglobin. Di sisi lain, masa pescatarian justru membuka wawasan baru: saya belajar bahwa protein tidak melulu hewani. Di Indonesia, kita punya harta karun bernama tahu dan tempe—dua makanan sederhana, kaya protein nabati, murah, dan mudah diakses. Sisa bagaimana kemudian diekusi sehingga proses penyadiannya bisa beragam dan menyasar hingga dikonsumsi Gen Alpha.
Pengalaman itu membuat saya sadar: pola makan bukan sekadar nutrisi, tetapi juga pengetahuan. Menjadi pescatarian mengajarkan saya tentang alternatif protein dan cara menjaga tubuh tanpa bergantung pada daging. Pengetahuan itu tetap saya bawa, bahkan ketika akhirnya saya kembali mengonsumsi daging merah demi menjaga hemoglobin.
Sekarang, dengan pola intermittent fasting dan ramuan rempah Nusantara, saya merasa lebih seimbang. Tubuh tidak lagi “protes” dan saya bisa tetap donor darah tanpa khawatir. Riwayat tekanan darah rendah tetap ada, tetapi dengan makan yang lebih teratur dan pengetahuan tentang protein nabati, tubuh terasa lebih stabil.
Pada akhirnya, di antara tubuh, buku, dan negara, kita semua sedang belajar: memilih makan juga berarti memilih siapa kita. Dan kalau masih ada yang menganggap makanan cuma soal kenyang, izinkan saya menutup begini: setiap piring adalah pernyataan—tentang tubuh, tentang budaya, dan tentang siapa kita jadinya. (*)
Editor: Kukuh Basuki
link
